Saturday, October 26, 2013

I WISH

,
Saya sedang tugas akhir, dan itu malas sekali. Tapi pagi itu, saya sampaikan pada ibu sedang apa saya di tugas akhir ini, tema apa yang saya ambil. Betapa kagetnya beliau karena tahu bahwa ayah pernah belajar dan mengajar tentang itu. Ibu menutup telepon lalu tak lama menelepon lagi, ia katakan bahwa ia menemukan beberapa catatan terkait tema yang saya ambil di lemari buku ayah yang tak pernah dibongkar. Ibu senang sekali. Saya bisa merasakannya. Getaran itu.

Berkebalikan dengan ibu saat itu, saya hanya diam menundukkan kepala. Hari itu saya terus mengulang-ulang kata “seandainya.. seandainya.. seandainya..” Oh Tuhan, aku pusing sekali memikirkan kata itu. Mungkin tidak akan sampai seperti kehilangan arah seperti ini. Mungkin akan jauh lebih mudah saat itu di waktu yang sekarang ini.

Entah siapa yang memulai, katanya “Motovasi datang dari diri sendiri”, tapi saya benar-benar rindu sosok itu ada untuk menampar diri saya yang lack of motivation ini.

I really wish you were here.

Sambil menulis, tetiba ada pesan masuk “do it as a gift buat mama”

Ayo, jaga semangat dan usir malas! Dan baca doa anti malas :)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam berdoa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ»
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, tindihan hutang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari no. 6369)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam berdoa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ»
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan usia pikun, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan (tertipu oleh keindahan dunia) dan fitnah kematian (mati dengan cara yang buruk, suul khatimah) dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.” (HR. Bukhari no. 2823 dan Muslim no. 2706)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam biasa membaca doa perlindungan dengan membaca:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ»
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari kepengecutan, aku berlindung kepada-Mu dari usia pikun dan aku berlindung kepada-Mu dari kekikiran.” (HR. Bukhari no. 6371)

Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berdoa:
«اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ، اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا»
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, usia pikun dan azab kubur.
Ya Allah, berilah jiwaku ketakwaan, sucikanlah jiwaku karena Engkau adalah sebaik-baik yang mensucikan jiwa. Engkaulah Yang mengurus dan mendidik jiwa.

Ya Allah berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, hawa nafsu yang tak pernah puas dan doa yang tidak dikabulkan.”(HR. Muslim no. 2722 dan Ahmad no. 19308)
Read more →

Monday, October 21, 2013

Konsep Bahagia

,
Tadi siang, saat makan siang, saya dan otim menghabiskan waktu siang bersama untuk melahap makan siang. Di tempat itu, semilir angin panas berhembus menerpa wajah kami berdua. Kami membicarakan banyak hal, kami membicarakan cita-cita kami, sampai “Aku mau membahagiakan ibu” Ujar Otim.

Saya menimpali dengan cukup serius “Bahagia seperti apa? Nanti kamu kerja, kamu sibuk, justru waktu dengan ibumu akan semakin berkurang? Bahagiakah ibumu?”

Otim berpikir sejenak lalu mengatakan “Bahagia berarti tidak ada kekhawatiran yang ditunjukkan oleh raut wajah ibu”

Boleh saya katakan kalau setiap orang punya konsep bahagianya masing-masing. Teman SMA saya, saat ujian akhir menjelang ia berusaha belajar keras mencoba memanfaatkan setiap waktu senggang untuk latihan soal, sampai ketika sang ibu meminta sesuatu anak ini tidak dapat memenuhi permintaan ibunya, dan ibunya mulai menggertak “Umi gak butuh anak pinter, umi mau anak umi nurut sama umi”. Konsep bahagia ibunya adalah sang anak menuruti ibunya.

Ibu saya sendiri merasa bahagia jika nilai-nilai saya menjulang, seperti ada rasa kepuasan di dalam hati yang membuncah. Saya ingat ketika di semester tiga saya mengalami keterpurukan, Indeks Prestasi tidak mencapai tiga, mendekati angka satu malah. Saat itu, saya langsung menghubungi ibu dengan nada memelas dan berharap dikasihani. Malang nian, ibu berkata “Kok bisa? Kan sudah difasilitasi segala macem..” Ah, hati mana tidak teriris, baru hitungan minggu saya mendapat kiriman laptop, setelah sebelumnya bergulat dengan komputer tua yang sering mendadak mati. Alhamdulillah, dari tiga mata kuliah berhurufkan D, saya berhasil memperbaiki dua diantaranya, satu karna nasib tugas saya yang hilang berhasil ditemukan, dan satu lagi karna saya berhasil menggugat karna salah input nilai. Ibu sedikit menyunggingkan senyumnya, IP saya menjadi nyaris tiga.

Ibnu lain lagi, konsep bahagia ibu dan keluarganya bukan pada nilai-nilai yang ada di dunia perkuliahan. Ibnu juga pernah mengalami masa-masa terpuruknya saat IP nya mendapat predikat nasakom (semoga tidak ada yang mengenalmu, nu), Ibnu sampai bersujud dihadapan sang ibu “Maafin aa, IP aa cuma segini, Ma.” Ibunya malah berkata “Gapapa, yang penting aa sehat.” Baru-baru ini Ibnu malah disuruh cepet nikah, sang ibu ingin segera menimang bayi katanya. Konsep bahagia ibunya Ibnu adalah Ibnu segera menikah dan punya anak.

Saya ingin membuat konsep bahagia saya sendiri, saya ingin membuat saya mengerjakan apa yang saya suka sehingga membuat orang-orang disekitar saya bergerumul merasakan yang saya kebahagiaan yang saya rasakan.


Seperti membuat tulisan di blog ini.
Read more →

Sunday, October 6, 2013

Mama Minta Duit

,
Hari ibu belum dekat, ulang tahun ibu pun begitu. Tapi saat ini saya memikirkan nama itu. Kenapa baru satu kalimat sudah mellow begini?

Saya pernah membuat ibu menangis. Tidak ingat berapa kali. Tapi cerita yang paling saya ingat adalah cerita sekitar empat tahunan yang lalu ketika saya masih di Jatinangor. Saat itu, pertama kalinya saya berada jauh dari ibu, dan saya anti ngutang.

Seperti biasanya, hari-hari saya dibantu oleh keuangan bulanan yang harus saya kelola sendiri tanpa bantuan siapapun, kecuali bantuan ibu yang selalu menyalurkannya setiap bulan. Masalah pun terjadi karena saat itu saya tidak bisa memanage uang dengan baik, alhasil saya tidak bisa menabung, uang bulanan selalu ‘pas’ habis di akhir bulan.

Masalah datang saat ibu telat sehari mengirimkan uang bulanan, saya uring-uringan di kamar, lebih tepatnya saya kehausan. Di kos tidak ada orang, saya bingung mau minta minum ke mana, saya haus. Saya sudah mengingatkan ibu untuk mengirimi hari itu, saya pikir dengan segera ibu akan mengirimkan. Siang harinya, segera saya pergi ke ATM yang berada di dalam mall yang letaknya sekitar 30 meter dari kos, dengan harapan setelah dikirimi uang, saya bisa langsung sekalian membeli minum.

Berkali-kali saya berkeliling mall lalu mengecek ATM, berkeliling lagi lalu mengecek ATM lagi, begitu seterusnya. Tapi kiriman tak kunjung datang, saya memutuskan berkeliling sekali lagi dan mengecek ATM sekali lagi, tetap saja sisa saldo tidak bisa diambil. Saya semakin kehausan, dehidrasi, saya tidak kuat, saya lemas. Akhirnya saya putuskan untuk menelpon ibu.

“Ma, udah dikirim?”
“Belum, nak. Mama lagi riweuh, nanti ya.”
“Ma, aku haus.. Dari tadi pagi belum minum..”
 “Ya ampun, kenapa ga minta temen dulu?
“Ga ada orang di kos..”
Sektika ibu menangis “Kenapa ga bilang? Mama kirim sekarang ya. Tunggu, mama lari ke ATM.”
“Makasi ma, (maaf).”


Semenjak saat itu, setiap saya haus dan lapar, saya tidak segan untuk ngutang dulu.
Read more →

Thursday, October 3, 2013

ALAY

,
ALAY adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. "Alay" merupakan singkatan dari "anak layangan" atau "anak lebay". Istilah ini merupakan stereotip yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan. Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan (lebay) dan selalu berusaha menarik perhatian. Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup.  Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan. Dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan.

Akhir-akhir ini saya sering dibilang “alay” oleh seorang adik kecil dan jika benar definisi alay Wikipedia adalah seperti itu, maka saya termasuk didalamnya, dulu, mungkin sekarang masih.

Saya bukan termasuk anak yang aktif di jurusan, dan saya yakin banyak dosen yang tidak tahu saya, atau mungkin cuma tau wajah saja, atau mungkin tidak tahu sama sekali. Ah saya jadi ingat masa lalu, ketika kakak pertama saya yang pernah berada satu kampus dengan saya datang berkunjung ke kampus, dan dilihatnya tidak ada dosen yang ia kenal, seketika ia menghubungi salah satu dosen yang dianggapnya dekat. Berikut percakapannya, dengan revisi.
Kakak: “Bos, saya lagi di kampus. Adik saya kuliah disini juga”
Dosen: “Saya lagi sakit mata, ga bisa ke kampus. Oh, adik kamu yang sepatunya jelek itu ya?”

What the?! Saya ingat waktu itu saya sedang ujian semester, saya duduk, lalu dosen itu datang menghampiri dan berkata “Sepatumu jelek amat, ngambil dimana?” Saya berahasil untuk tidak berontak. Takut dilempar sepatu.

Style saya saat itu: kemeja, jeans, dan sepatu converse. Cukup oke, kan?
Saya sungguh menghayati kenikmatan bersepatu seperti itu, semakin lama sepatu dipakai, semakin nyaman pula saya menikmatinya. Ibu pun jauh sebelumnya pernah mengeluhkan sepatu converse saya yang sudah dijahit berkali-kali, malu katanya. Saya cuek aja.

Lain waktu, saat saya rasa ke-alay-an saya sudah berkurang - sepatu sudah lebih baik, dan style berpakaian sudah lebih keibuan -  saya mencoba peruntuan lain, ketika itu ada seleksi workhop internasional di luar negeri yang cukup bergengsi di kalangan teknik. Ada empat tahap, dua tahap pertama saya merasa biasa aja. Loncat ke tahap empat, saat itu sudah siang hari terik, tapi dosen penguji tersenyum sumringah karena saya dinyatakan berhasil membuat joke yang entah saya lupa “Dari tadi ga ada peserta yang kaya kamu” katanya. Saya pun ikut senang.

Mundur ke tahap tiga, dosen yang menyeleksi adalah dosen saya sendiri, karena saya termasuk mahasiswa yang sangat biasa, saya yakin dosen ini tidak mengenal saya, tapi keadaan berkata lain setelah saya mengenalkan nama…

Dosen saya bilang “Ooh, kamu yang sintamooo sintamooo itu ya?”
Apa mungkin dosen ini membaca blog saya yang dulu ada tagline “Sintamooo Berguling, never ending guling-guling”?
“Bukan pak! Saya sinta irawati” tegas saya.
Dosen menanggapi “iya, kamu sintamoo itu kan? Kamu pernah ngirim email ke saya pake saphiemooo!”
Saya shock!  [aakk tidaaak!!] “Ah bapak, itu kan dulu email saya masih alay. Sekarang udah enggak kok, Pak” sembari menaikkan alis.
Lalu dosen menjawab lagi “iya, email kamu udah gak alay. Tapi kamu nya yang alay.”


Baiklah, saya tidak lolos seleksinya.
Read more →

"Ibu, aku sudah dewasa"

,
Gusi bagian belakang saya sakit: cenat-cenut-cenat-cenut. Seketika saya ingat pengalaman teman-teman yang sudah mulai tumbuh gigi dewasanya, nyeri katanya. Dan saya pun senang bukan main saat saya tahu kalau akhirnya gigi terakhir saya akan tumbuh. Tak sabar saya ingin mengabari ibu kalau saya sudah dewasa karena tumbuhnya gigi.

Saya nikmati setiap detik cenat-cenutnya dengan lidah saya. Sampai beberapa jam kemudian saya sadar, saya buka lebar-lebar mulut ini, saya lihat bagian dalam mulut saya dengan cermin, saya amati baik-baik. Ah, ternyata sariawan.

Ibu, aku tidak jadi dewasa..
Read more →

Tuesday, October 1, 2013

Teknik Industri Undip Zeronine

,

Here, in this lovely blog, zeronine
Read more →

Monday, September 30, 2013

Asing Berdaya

,
Sumber Gambar


Beberapa pekan yang lalu, saat Hari Tani digemakan, ada kabar buruk yang justru melukai hati para petani, atau mungkin para petani justru senang karena mereka akhirnya bisa melakukan kegiatan pertanian dengan harapan lebih menjanjikan?! Tapi yang pasti kabar buruk itu pasti melukai hati warga Negara Indonesia yang sedih setiap segala sesuatu yang ada didalamnya, nyatanya bukan milik Indonesia.

How come, kita tinggal di Negara yang lahannya bukan punya kita?

Cerita itu datang saat saya melihat artikel di liputan6.com, salah satu lahan pertanian di Jawa Barat akhirnya terbeli oleh Cina dan Malaysia, tujuan mereka sebenarnya sangat mulia, karena ingin memenuhi kebutuhan pangan dunia, dan kemuliannya bertambah lagi karena bisa memperkerjakan rakyat Indonesia. Tapi apakah harus seperti ini caranya?
Kelompok agribisnis China-Malaysia tengah berupaya membangun lahan persawahan dan proyek pengolahan terpadu pada November mendatang di Indonesia. Dengan dana investasi US$ 2 miliar (Rp 20,3 triliun), perusahaan China ini berharap bisa memasuki pasar berkembang di tanah air sekaligus memenuhi pasokan beras domestik.

Proyek di Indonesia akan menjadi usaha patungan Wufeng yang pertama dan diharapkan dapat memenuhi pasar luar negeri. Direktur Amarak Saadiah Osman mengatakan, usaha patungannya tersebut akan menyediakan modal untuk menggarap lebih dari satu juta hektare lahan persawahan di Indonesia.

Perusahaan asing terkenal lain yang telah berhasil bertahun-tahun menduduki Indonesia adalah PT. Freeport, menambang emas bertahun-tahun, tapi justru tidak membuat manusia di sekitar perusahaan tersebut menjadi lebih kaya. Masyarakat di sekitar kawasan Freeport justru hanya menjadi penonton di wilayahnya yang terkesan “dijajah”. Info dari inilah.com menjelaskan bahwa 90% minyak dan gas bumi Indonesia telah dikuasai asing. Hatchim!

Lain cerita, teman saat ini sedang di berada Kepulauan Riau, salah satu pulau terindah di Indonesia, keindahan ini justru diceritakan dengan banyaknya asing yang memberdayakan lahan-lahan di sana untuk dijadikan resort, dan salah satu resortnya adalah resort terbaik di Indonesia. Bahkan ada salah satu pulau yang katanya di “sewa” kan, disewakan bertahun-tahun tidak tahu sampai tahun kapan. Ingat perkebunan yang tempo hari terbakar dan asapnya sampai ke Negara tetangga? Tahu perkebunan itu punya siapa? Punya tetangga kita sendiri.

Lebih jauh lagi, coba kita introspeksi diri, apa yang menyebabkan kekayaan alam ini jusru dengan mudahnya dimanfaatkan orang-orang yang tidak semestinya, bukan orang Indonesia. 
- Kita belum bisa memanfaatkan dengan baik SDA yang ada
- Kita terlalu mudah tergiur dengan pundi-pundi uang yang ditawarkan
- Kita terlalu asik berdiam diri dan menonton
- Kita terlalu mudah di-lobby

Alhamdulillahnya, semakin banyak yang sadar atas keberadaan orang asing ini, sejumlah orang Indonesia sedang gencar-gencarnya membuat program Indonesia Berdaya, semacam sedekah rombongan untuk menyelamatkan asset negara dari tangan asing, sehingga Indonesia dapat sepenuhnya memiliki kepemilikan Indonesia-nya.

Semoga kita tidak (seperti) menumpang di negeri sendiri.
Read more →

Sunday, September 22, 2013

Sumur Masalah

,
Sumber Gambar

Mungkin karena saya sedang bergelut dengan tugas akhir, dimana pencarian masalah untuk penelitian sangat menarik dilakukan. Sampai akhirnya begitu banyak masalah datang menghampiri. Bahkan selimut yang dilipat tidak sesuai sisi-sisinya atau kursi lipat tidak dilipat dan ditempatkan dengan keadaan yang tidak saya inginkan akan saya jadikan masalah.

Belakangan, seseorang yang mendiami tempat saya berlabuh saat ini, yang sudah saya anggap sebagai ibu, karena kalo lapar tak tertahankan dan keuangan mulai menyusut, beliau lah orang yang cari. Baru-baru ini, sang ibu mengeluhkan panasnya kota Semarang yang membuat keringat mengalir seperti tetesan gerimis. Saya hanya bilang “Namanya juga kemarau, Bu.”, pernyataan saya dilanjutkan dengan “Ya tapi jangan lama-lama dong, nanti sumur di rumah ibu kering, ga ada air lagi. Apalagi sekarang banyak rumah yang pake sumur bor.” Saya mulai mencondongkan badan ke arah ibu, lalu otak saya mulai berimajinasi. Imajinasi.. sambil membentangkan kedua tangan di atas kepala membentuk pelangi seperti spongebob. Kalo tidak tahu episode spongebob yang itu ya sudah.

Ternyata perkataan dosen saya yang mengatakan bahwa semakin banyaknya perumahan yang mulai membuat bor pribadi akan merusak ekosistem adalah benar, saya baru sadar. Dan ternyata orang terdekat saya sudah mulai mengalami bencana ini. Ini mulai gawat!

Aang bilang kalo bumi punya empat elemen: air, tanah, api, udara. Dahulu, air yang ada di dalam tanah adalah sesuatu yang bebas (free goods) alias dapat dipakai secara bebas tanpa ada batasan pemakaian. Tapi kondisi telah berubah dan mengakibatkan air tanah menjadi sesuatu yang dikomersilkan. Jangan sampai hal ini terjadi pada udara.

Sejujurnya, saya belum terlalu banyak mencari (googling) solusi alternatif yang logis ataupun tidak logis [seperti penutupan pabrik kendaraan bermotor] dalam mengatasi permasalahan sumur bor ini, tapi alangkah indahnya jika ada yang mau mendiskusikan.

Terlalu banyak intro sepertinya.

Baiklah, air tanah yang berada di bawah permukaan tanah adalah suatu bentuk kekayaan alam, sayangnya keberadaan air tanah ini tidak merata di setiap tempat, jadi diperlukan suatu strategi untuk menemukan titik temu keberadaan air, dan untuk memanfaatkannya diperlukan suatu teknologi yang bernama sumur bor. Keberadaannya pun terbatas, apalagi di saat hujan tiada turun menghampiri bumi.

Tulisan ini beberapa saya kutip dari paper Bapak Dr. Heru Hendrayana dari Teknik Geologi UGM mengenai Dampak Pemakaian Air Tanah (sumber). Berikut ini merupakan sekilas tulisan mengenai dampak pemakaian air tanah dari Bapak Heru, yaitu:
·    Penurunan muka air tanah
Jelas, air tanah yang dimanfaatkan terus-menerus menyebabkan pernurunan muka air tanah.

·    Intrusi air laut
Intrusi air laut berarti pergeseran air tanah dari laut ke daratan akibat air di sekitar pantai terganggu.

·    Amblesan tanah
Terjadi akibat pengambilan air tanah yang berlebihan. Saya sempat berfikir, mungkin lama-lama bisa ada rumah yang ambles ke bawah karena terlalu banyak yang pake sumur bor ini.

Bagian ini saya ambil dan ringkas dari blog Bapak Suherdi (sumber).
Baik sumur galian atau sumur bor mengandung air tawar, dan daerah di Pulau Jawa ini banyak mengandung batu sedimen dan endapan lumpur, galian atau bor yang dilakukan dapat mengakibatkan terbentuknya rongga-rongga dalam jumlah yang banyak, dampaknya membuat air laut terdorong masuk ke dalam, dan air tawar mulai terksploitasi. Lama-lama air sumur bor akan menjadi payau (campuran tawar dan asin), sadarkah suatu saat nanti akan terjadi krisis air bersih?

Sumur bor tidak bisa dieksploitasi terus menerus, harus ada aturan yang menunjang mengenai jarak sumur satu dengan yang lainnya. Tidak harus setiap rumah di setiap perumahan memiliki sumur bor.

Kelak kau harus berfikir suatu hari cicit dari cicitmu akan mengalami dampak atas apa yang kita perbuat.

Little comment for better future!
Read more →