Saturday, August 27, 2011

SMA Islam PB Soedriman 2 Bekasi

,

Bermain-main di masa muda, masa-masa dimana produktifitas saya tak kunjung terhenti, masa sebelum saya mengerti bahwa kuliah tidak seenak seperti yang saya pikirkan, high school cant be changed. Tulisan ini terisnpirasi dari kisah saya kemaren, acara buka puasa ipa1, dari 30 orang, hanya setengahnya yang pasrtisipasi, tapi puas buanget. Walaupun udah [sok] gede, tetep aja tingkahnya masih ga ada yang berubah, dan setiap ngumpul orang yang diomongin pun pasti selalu sama juga :D




Sekolah saya, SMA Islam PB Soedirman 2 Bekasi sekolah paling luar biasa. Bukan cita-cita mayoritas siswanya buat masuk kesana, tapi saya yakin, pas mereka terjerumus di dalemnya, suasanya akan jauh berbeda. Saya angkatan ketiga disana, bayangin! Angkatan 1 hanya segelintir orang [puluhan maksud saya] angkatan 2 mungkin 61, angkatan saya, saya lupa, dan bayangin juga betapa kecilnya sekolah itu,  semua orang kenal, dan mau ga mau jodohnya ya disitu-situ aja.

Dimana sekolahnya? Nah, itu, jarang ada yang tau pasti. Malkum, sekolah baru, ada di pelosok pula. Sekolah saya ada di perumahan puri harapan, bekasi. Jika anda jalan melewati perumahan harapan indah, anda akan tercengang-cengang melihat kemegahan perumahan disana, tapi jika anda pergi melewati jalur paku lalu nain, anda akan melihat kekontrasan kehidupan, banyak pabrik disana. Tapi semua utu akan berujung ke satu jalan utama memasuki gerbang perumahan puri harapan, jalanan yang cukup ekstrim, bergradasi dan mewah, Mepet saWAH. Setiap kali hujan besar, lapangannya suka banjir, sensasi saat hujan ini yang menyenangkan, kita bisa full day used slipper :D


  
Banyak mata pelajaran tambahan yang huahhh. Karena kita international school, mata pelajaran asing yang sangat asing buat saya seperti bahasa Arab, bahasa Jepang, dan bahasa Jerman jadi pelengkap disana, jor-joran buat belajar bahasa Arab apalagi pas nemuin arab gundul, huah. ketemu frau juga yang membuat saya mengerti akhirnya apa itu ich liebe dich. Dan sensei yang mbikin saya tau kalo jenis-jenis huruf di jepang ada empat macem: hiragana, katanana, kkanji, dan romaji [kasian anak TK di Jepang]. Di tambah lagi ada pelajaran conversation yang harus ber cas cis cun bahasa inggris, sampe harus nyari bule di monas biar dapet nilai. Karena kita juga bertitel islamic school, mau gak mau pelajaran Al Quran dan ilmu fikih jadi santapan wajib, maknyus semuanya.


Saya termasuk anak yang agak badung mungkin. Kelas dua, masa-masa suram saya, hampir ga pernah gak telat setiap masuk, jam 6.45 dimanfaatin buat tadarusan di kelas, tapi saya juga sering ngelewatin. Alhasil setiap lewat dari jam itu, saya ada di lapangan buat sekedar lari-lari atau jalan jongkok [jadi wajar kalo sma saya kurus] atau juga bisa saya tadarusan sama temen2 yang telat di pinggir lapangan. Menjelang bagi rapot, saya diberi tahu kalo point saya sebagai tukang telat selalu di catet, dan sudah mencapai 80-an dari 100, amazing! Buat sampe ke -nol- lagi saya harus ikut mabit, ada sekitar 20 orangan yang ikut karena bermaslaah di poin itu hhehe.


Dan kemaren, jadi momen buat reunian, ngedenger cerita temen yang aneh-aneh, dari seneng2 sampe kisah patah hati yang ceessss, miris. thanks, guys!


hug :*

Read more →

Friday, August 26, 2011

Greenlifestyle dan Eco-Industrial Park

,


Memulai untuk menulis ini membuat berfikir ulang karena saya bukan orang yang menganut 100% greenlife style, tapi seenggaknya tulisan ini nantinya membuat saya termotivasi untuk hidup cinta lingkungan. Dari sisi kehidupan saya sebagai manusia biasa, saya sudah sedikit mengurangi penggunaan tisu saat makan di tempat makan, setidaknya saya memakai satu tisu dari awal untuk mengelap sendok-garpu sampai mengelap mulut di akhir makan. Sering juga belanja di indomaret tidak menggunakan plastik, walaupun katanya plastik indomaret sekarang ini termasuk biodegradable. Dan saya juga mulai mencoba untuk memakai tumbler kemanapun saya pergi, walaupun yang ini masih agak susah diterapkan. Penurunan yang saya alami ketika saya dikirimin motor, dulu saya angkot-ers, nebeng-ers, dan jalan-ers sejati, tapi sekarang saya sudah ketergantungan dengan motor saya dari jaman SMA itu, namun ada cara lain ubtuk berhemat ketika saya sudah punya motor itu, menurut sumbe dari komunitas pecinta lingkungan, mengisi tangki bensin sampai full tank akan jauh lebih hemat daripada membeli harga eceran seperti 5ribu atau 10ribu. Saya sudah merasakannya :D



Berbicara mengenai komunitas pecinta lingkungan, dari dulu saya tertarik untuk ikut bergabung, setidaknya sebagai volunter, yah kan keren memegang lambang aktivis lingkungan, walau akan jadi beban hidup karena tidak bisa macem2 untuk terus menggunakan plastik, kertas, tisu dan lain sebagainya. Semoga sebentar lagi cita-cita saya jadi aktivis lingkungan tercapai, ahiy!

Yang tadi saya bicarakan adalah posisi dimana saya hidup sebagai seorang manusia biasa, sekarang saya akan berbicara sebagai seorang intelektual yang cinta lingkungan [ehem]. Berawal saat saya tidak ikut presentasi bersama kelomok, yang akhirnya malah membuat saya terjerumus, tersiksa karena harus presentasi sendirian di depan dosen, tema waktu itu eco-industrial park. Kacau, karena dosen saya bilang kelompok saya salah menyampaikan maksud eco-industrial park. Ya, karena setelah saya cari tau sendiri, referensi terbanyak banyak didapatkan dalam bahasa Inggris. Hanya dikasih waktu semalam, saya mencari, menerjemahkan, memahami apa maksud tema tersebut, keterbatasan bahasa Inggris membuat saya gelagapan, sampai akhirnya saya minta bantuan teman saya yang waw: kang Adi, orang terpercaya karena semasa kuliahnya sudah bergelut di bidang-bidang seperti itu, sekarang malah kerja di dubes, yah keren kan? Back to the topic, dari kang adi saya mengerti apa itu eco-industrial park beserta bagan-bagan yang pernah ia jelaskan. Presentasi saya oke, ngejawab pertanyaan juga oke walaupun banyak ngaco alias sok tahu. Pemahaman mengenai eco-industrial park membuat saya ingin menciptakan suatu kawasan yang ramah lingkungan, zero waste. Jadi, kawasan ini memanfaatkan limbah dari satu unit ke unit lainnya, sehingga tidak akan ada limbah yang dihasilkan. Kawasannya bukan Cuma pabrik aja, ada perumahan, peternakan, macem2, lengkap pokonya.

Skema Eco-Industrial Park di Kalundborg, Denmark [sumber]

Nah, kaya gitu itu siklus di eco-industrial park di Kalundborg, Denmark, pencetus eco-industrial park yang udah berhasil dan jadi percontohan dunia. Bayangin semua limbah yang ada masuk buat jadi bahan baku di tempat lain, keren kan? Emang butuh dana yang gede banget di awal, tapi kalo dipikirin jangka panjangnya akan jauh lebih bermanfaat dan murah nantinya. Yang perlu kita ingat adalah global warming tidak bisa dicegah atau dihentikan, tapi kita bisa memperlambat prosesnya.
Read more →

Thursday, August 25, 2011

finally, I got it: AIESEC

,

Five days to Lebaran. Too fast to leave this month, i haven't felt my holiday yet. Because i'm chosen as organizing committee in aiesec lc undip for open recruitment. Although i cant feel my holiday, i'm happy with it. You know why? I get so many learning here. Was, i couldnt operate photoshop and corel draw, but now im advance of it [hahaa, i lie, just know to operate those things]. Making a great poster design, blocknote, pin, and teaser. Ito, my friend in aiesec responsible to help me. Next learning is marketing, cant wait for it. Huahh, enjoy to become an aiesecer.

I know aiesec when i was in aiesec project at malaysia: miracle youth confrence (MYC) 2009 by aiesec UPM. Talking about environment and open my eyes that our earth must be saved. I met many people from many countries, so I got many friends there. I also want to thank to iaas lc unpad that made me went abroad for the first time, and because iaas, i also know aiesec. My friend from unpad told me that she was a member of aiesec, but lost member. She said ‘aiesec is a great organization, it made me busy, and when you were there you will often to dance’. What? Dance? Ya, when i was in MYC, you danced, everyone danced, i enjoyed it. MYC was two of great lastest event i did before i left unpad. i dreamed to join aiesec someday..

Here in undip, first year i didnt hear anything about aiesec’s project. But in the second year, i saw aiesec opened an open recruitment, directly i registered it. But, when i went to focus group discussion (fgd), my practicum made me not to come, haissh! In, march 2011, open recruitment second round was opened, and it was the latest chance for me and other 2009. First, applied for the application: accepted. Second, focus group discussion, making a small group to discuss about the issue which was happening in that time. I and team got the theme about education (the regulation about final exam in Indonesia) and also 'things to bring when you are in other space' then me and my team presented it, yap I eccepted again, horay! Went to the last session. Interview, this was the longest interview that i ever had, two persons in front of me, usied formal clothe but i only used t-shirt and obsolete shoes, haah poor me. I made my self confidence although it was hard, the question made me to think, I also did presentation and marketing simulation. The day after, my friend whom I met in Pare but studied at nursing science undip who also join recruitment aiesec send me sms that we’re accepted.

The announcement published at blogspot and the committee also send sms, but i hadnt gotten it yet. I went to internet cafe to make sure that i really accepted, and yup oh God, i was so happy.

Finally, after a long time, hehe. Couldn’t wait until welcoming party, the dresscode was blue and the newie (new members) had to bring something which show you.  About dance? Ya, it’s right, full of danced haha [sampe mabok]. I also remembered induction buddies and induction camp, there, we totally know what aiesec is, especially for the aiesec way. I’m so proud to be a part of aiesec. So many learning i can get from here, it’s challenging! :D

aiesec mmuach :*
Read more →

Wednesday, August 17, 2011

Indonesia dalam Dirgahayu

,

Berkaca dari beberapa tahun yang lalu, saat saya masih bisa mengumandangkan Indonesia raya sambil hormat bendera di teriknya panas matahari atau menunduk mengheningkan cipta, dan berbagai perlombaan seperti sepeda lambat, lomba kelereng, masukin paku ke botol, dan banyak hal lainnya saya ikuti. Sekarang khidmat kemerdekaan sungguh berkurang, bukan karena saya tidak mau, tapi tradisi itu ikut menghilang semua seiring bertambahnya umur saya.

Google ikut ngerayain kemeredekaan :)

Saya bukan ingin bercerita mengapa kita merasa belum merdeka karena masih banyak rakyat miskin, masih banyak anak-anak yang tidak sekolah, beras masih import dan huh masih banyak lagi. tapi pandangan tentang Indonesia di mata orang non-WNI. Jelas, Indonesia sungguh negara yang menarik, dengan 17.000 ribu pulaunya, bergelimpangan keeksotisan negeri di dalamnya. Teman saya, yang pernah exchange ke Amerika pernah ditanya temannya “di Indonesia kamu tinggal di rumah pohon?” takjub, ya karena mereka melihat Indonesia seperti itu, masih negara primitif yang mamakai baju daun dan mencari makan lewat berburu, mereka melihat dari discovery channel, hmm. Teman saya dari Malaysia, mengaku senang mempelajari angklung, di kampusnya di Malaysia, ia ikut club angklung, can you imagine? Lain lagi cerita bule yang lebih apal Indonesia daripada orang Indonesia nya sendiri, dari buku The naked Traveler, Trinity sang penullis seringkali mendapat info dari temennya yang bule tentang Indonesia. Teman saya dari Belgium pernah nanya kenapa di Indonesia banyak orang malas, sukanya hanya meminta-minta, kenapa banyak sampah berserakan sampai-sampai dia bilang ”Indonesia is a beautiful country”. Haiyah.

Indonesia semakin berkembang, ayo ikut membangun Indonesia, jaga budaya-budaya kita, kenali lebih jauh, dan jangan buang sampah sembarangan :D
Read more →

Saturday, August 6, 2011

Tiba-Tiba Jadi Guru

,

Kick Andy yang membuat saya akhirnya menulis ini, ceritanya kali ini tentang anak-anak yang punya kekurangan dalam hal finansial dan fisik, tapi punya prestasi yang luar biasa. Anak pertama dari NTB, sangat miskin, tapi punya bakat luar biasa di bidang astronomi, juara olimpiade internasional. cita-citanya sederhana sekali, cuma jadi guru atau dosen, sewaktu Andy bertanya kenapa, si anak menjawab “presiden gak akan bisa jadi presiden kalo ga ada guru :D”


Anak kedua, gak punya tangan, sama seperti yang lain, dia mengikuti pendidikan dari mulai taman kanak-kanak, memasuki sekolah dasar, dia di tolak di sekolah negeri, akhirnya masuklah ia ke SLB selama lima tahun, guru disana merasa anak ini tidak pantas sekolah di SLB, intelegensia nya normal, kalao dibiarkan di sekolah luar biasa tidak akan berkembang, guru itui akhirnya mengusahakan agar ia bersekolah di sekolah negeri, dan masuklah dia sampe sekarang sudah di sekolah menengah atas, cita-cita jadi pelukis, melukis dengan kaki.

Yang membuat saya akhirnya terketuk yaitu cerita Andy F. Noya sewaktu dia masih kelas 4 di sekolah dasar, termasuk ke dalam keluarga broken home, karena orang tuanya bercerai, ia ikut ibu yang terus –menerus bekerja, jadilah ia tidak terurus, sekolah semaunya, namun tetap meraih bintang kelas, yang sering bolos pastinya. Sampe akhirnya dia dipaksa ikut tanding antar kelas oleh wali kelasnya, dia diajari semalaman, tapi keeskokannya, dia tidak bisa mengerjakan soal-soal tersebut, soal yang diajari sewaktu ia bolos, ah menyedihkan. Antara ingin pulang ke rumah atau kembali ke kelas. Namun, sang guru memberinya motivasi, menyakinkan bahwa Andy akan menjadi orang yang besar, hartawan katanya. Setelah sekarang ini Andy menyadari bahwa yang dimaksud gurunya adalah wartawan, karena Andy memiliki kemampuan yang baik dalam menulis. Ia mencari gurunya bertahun-tahun, hanya untuk mengucapkan terimakasih.

Jadi inget guru-guru saya dari TK sampe kuliah, thank you so much hihii..
Kalo saya jadi guru, motivasi murid-muridnya, melihat mereka sukses, kebanggaan luar biasaaa. Tapi jadi guru apa ya? Guru TK aja ahh..
Read more →

Friday, July 29, 2011

Minky Momo

,
hair style pertama kali keluar salon, potongannya DORA banget, tanpa poni.


tapi, barusan, setelah melihat bayangan di tembok, saya baru sadar kalo style rambut saya ini berubah, mirip Minky Momo


tau maksudnya? ya, begitulah, saya malas menjelaskannya :(
Read more →

ENCOURAGEMENT

,
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. 


Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)

RHENALD KASALI 
Ketua Program MM UI 

Read more →

Thursday, July 28, 2011

Bule ooh Bulee..

,
Mengenai perjalanan kaki panjang hari ini, saya mendapatkan pengetahuan lebih mengenai seperti apa si kebudayaan Indonesia, seberapa menariknya tempat-tempat wisata yang mayoritas dikunjungi turis lokal maupun internasional, dimana letak menariknya? We’ll see.



Tidak biasanya saya berkunjung ke musem, ya tadi saya ke museum monumen nasional di deket monumen nasional tentunya, hanya dengan membayar Rp 5.000 saya bisa melihat seluruh isi gedung yang penuh dengan bebatuan, kain, perahu, iptek, dan lain-lain yang ada di jaman baheula.

Ada juga segerombolan, lebih tepatnya segudang bukan bukan tapi segedung anak-anak es de yang masih imut, kebayang ramenya kaya apa. Pas saya lagi jalan ke bagian geografisnya negara ini, ada sekumpulan bocah lagi ngerubungin bule, entah ngapaian, pokonya mereka bawa kertas terus ngelilingin si bule, minta tanda tangan gitu? Hadeuh. Terus abis selesai ngelilingin bule, si bocah loncat-loncat, terus bilang ke temennya ‘yuk, kita cari bule lagi’.  Sekalian aja bulenya dimuseumin.

Lanjut lagi ke bagian iptek, saya di lantai dua dan bocah-bocah di lantai tiga, saya ngedenger mereka teriak-teriak heboh ga jelas, pas saya nanya ke temen apa yang mereka teriakin temen saya ikut-ikutan teriak ‘ada turiiis, addaaa tuurriiiissss’.  Ya ampun, terus saya ngeliat sekitar tiga bule berlari-lari kecil masuk ke lift dijagain satpam, ampun deh!

Kejadian kaya gini bukan pertama kali saya liat dan denger. Di tempat-tempat wisata yang banyak turis lokal n internasionalnya itu yang banyak kejadian kaya gitu. Di Jogja misalnya, orang-orang lebih interest buat foto-foto sama bule daripada sama candinya, saking si bule pegel orang-orang minta foto terus, si bule bilang “kenapa kamu gak foto sama candinya, ini lebih menarik daripada saya” heihoooo,  saya juga waktu muda dulu juga gitu kali ya, pas ada bule ngeliraklirik pengen deketin. Hihii, lucu ajaa -lol-
Read more →