Tuesday, October 1, 2013
Monday, September 30, 2013
Asing Berdaya
Posted by
sintamooo
,
at
Monday, September 30, 2013
![]() |
| Sumber Gambar |
Beberapa pekan yang lalu, saat Hari Tani digemakan, ada kabar buruk yang justru melukai hati para petani, atau mungkin para petani justru senang karena mereka akhirnya bisa melakukan kegiatan pertanian dengan harapan lebih menjanjikan?! Tapi yang pasti kabar buruk itu pasti melukai hati warga Negara Indonesia yang sedih setiap segala sesuatu yang ada didalamnya, nyatanya bukan milik Indonesia.
How come, kita tinggal di
Negara yang lahannya bukan punya kita?
Cerita itu datang saat saya
melihat artikel
di liputan6.com, salah satu lahan pertanian di Jawa Barat akhirnya terbeli
oleh Cina dan Malaysia, tujuan mereka sebenarnya sangat mulia, karena ingin
memenuhi kebutuhan pangan dunia, dan kemuliannya bertambah lagi karena bisa
memperkerjakan rakyat Indonesia. Tapi apakah harus seperti ini caranya?
Kelompok agribisnis China-Malaysia tengah berupaya membangun lahan persawahan dan proyek pengolahan terpadu pada November mendatang di Indonesia. Dengan dana investasi US$ 2 miliar (Rp 20,3 triliun), perusahaan China ini berharap bisa memasuki pasar berkembang di tanah air sekaligus memenuhi pasokan beras domestik.Proyek di Indonesia akan menjadi usaha patungan Wufeng yang pertama dan diharapkan dapat memenuhi pasar luar negeri. Direktur Amarak Saadiah Osman mengatakan, usaha patungannya tersebut akan menyediakan modal untuk menggarap lebih dari satu juta hektare lahan persawahan di Indonesia.
Perusahaan asing terkenal
lain yang telah berhasil bertahun-tahun menduduki Indonesia adalah PT.
Freeport, menambang emas bertahun-tahun, tapi justru tidak membuat manusia di
sekitar perusahaan tersebut menjadi lebih kaya. Masyarakat di sekitar kawasan
Freeport justru hanya menjadi penonton di wilayahnya yang terkesan “dijajah”.
Info dari inilah.com
menjelaskan bahwa 90% minyak dan gas bumi Indonesia telah dikuasai asing.
Hatchim!
Lain cerita, teman saat ini
sedang di berada Kepulauan Riau, salah satu pulau terindah di Indonesia,
keindahan ini justru diceritakan dengan banyaknya asing yang memberdayakan
lahan-lahan di sana untuk dijadikan resort, dan salah satu resortnya adalah
resort terbaik di Indonesia. Bahkan ada salah satu pulau yang katanya di “sewa”
kan, disewakan bertahun-tahun tidak tahu sampai tahun kapan. Ingat perkebunan
yang tempo hari terbakar dan asapnya sampai ke Negara tetangga? Tahu perkebunan
itu punya siapa? Punya tetangga kita sendiri.
Lebih jauh lagi, coba kita
introspeksi diri, apa yang menyebabkan kekayaan alam ini jusru dengan mudahnya
dimanfaatkan orang-orang yang tidak semestinya, bukan orang Indonesia.
- Kita belum bisa memanfaatkan dengan baik SDA yang ada
- Kita terlalu mudah tergiur dengan pundi-pundi uang yang ditawarkan
- Kita terlalu asik berdiam diri dan menonton
- Kita terlalu mudah di-lobby
- Kita belum bisa memanfaatkan dengan baik SDA yang ada
- Kita terlalu mudah tergiur dengan pundi-pundi uang yang ditawarkan
- Kita terlalu asik berdiam diri dan menonton
- Kita terlalu mudah di-lobby
Alhamdulillahnya, semakin
banyak yang sadar atas keberadaan orang asing ini, sejumlah orang Indonesia
sedang gencar-gencarnya membuat program Indonesia Berdaya, semacam sedekah
rombongan untuk menyelamatkan asset negara dari tangan asing, sehingga
Indonesia dapat sepenuhnya memiliki kepemilikan Indonesia-nya.
Semoga kita tidak (seperti)
menumpang di negeri sendiri.
Sunday, September 22, 2013
Sumur Masalah
Posted by
sintamooo
,
at
Sunday, September 22, 2013
![]() |
| Sumber Gambar |
Mungkin karena saya sedang bergelut dengan tugas akhir, dimana
pencarian masalah untuk penelitian sangat menarik dilakukan. Sampai akhirnya
begitu banyak masalah datang menghampiri. Bahkan selimut yang dilipat tidak
sesuai sisi-sisinya atau kursi lipat tidak dilipat dan ditempatkan dengan
keadaan yang tidak saya inginkan akan saya jadikan masalah.
Belakangan, seseorang yang mendiami tempat saya berlabuh saat ini,
yang sudah saya anggap sebagai ibu, karena kalo lapar tak tertahankan dan
keuangan mulai menyusut, beliau lah orang yang cari. Baru-baru ini, sang ibu mengeluhkan
panasnya kota Semarang yang membuat keringat mengalir seperti tetesan gerimis.
Saya hanya bilang “Namanya juga kemarau, Bu.”, pernyataan saya dilanjutkan
dengan “Ya tapi jangan lama-lama dong, nanti sumur di rumah ibu kering, ga ada
air lagi. Apalagi sekarang banyak rumah yang pake sumur bor.” Saya mulai
mencondongkan badan ke arah ibu, lalu otak saya mulai berimajinasi. Imajinasi..
sambil membentangkan kedua tangan di atas kepala membentuk pelangi seperti
spongebob. Kalo tidak tahu
episode spongebob yang itu ya sudah.
Ternyata perkataan dosen saya yang mengatakan bahwa semakin
banyaknya perumahan yang mulai membuat bor pribadi akan merusak ekosistem
adalah benar, saya baru sadar. Dan ternyata orang terdekat saya sudah mulai
mengalami bencana ini. Ini mulai gawat!
Aang bilang kalo bumi punya empat elemen: air, tanah, api, udara.
Dahulu, air yang ada di dalam tanah adalah sesuatu yang bebas (free goods)
alias dapat dipakai secara bebas tanpa ada batasan pemakaian. Tapi kondisi
telah berubah dan mengakibatkan air tanah menjadi sesuatu yang dikomersilkan. Jangan sampai hal ini terjadi pada
udara.
Sejujurnya, saya belum terlalu banyak mencari (googling) solusi
alternatif yang logis ataupun tidak logis [seperti penutupan pabrik kendaraan
bermotor] dalam mengatasi permasalahan sumur bor ini, tapi alangkah indahnya
jika ada yang mau mendiskusikan.
Terlalu banyak intro sepertinya.
Baiklah, air tanah yang berada di bawah permukaan tanah adalah
suatu bentuk kekayaan alam, sayangnya keberadaan air tanah ini tidak merata di
setiap tempat, jadi diperlukan suatu strategi untuk menemukan titik temu
keberadaan air, dan untuk memanfaatkannya diperlukan suatu teknologi yang bernama
sumur bor. Keberadaannya pun terbatas, apalagi di saat hujan tiada turun
menghampiri bumi.
Tulisan ini beberapa saya kutip dari paper Bapak Dr. Heru
Hendrayana dari Teknik Geologi UGM mengenai Dampak Pemakaian Air Tanah (sumber).
Berikut ini merupakan sekilas tulisan mengenai dampak pemakaian air tanah dari
Bapak Heru, yaitu:
· Penurunan
muka air tanah
Jelas, air tanah yang dimanfaatkan terus-menerus menyebabkan
pernurunan muka air tanah.
· Intrusi air laut
Intrusi air laut berarti pergeseran air tanah dari laut ke daratan
akibat air di sekitar pantai terganggu.
· Amblesan tanah
Terjadi akibat pengambilan air tanah yang berlebihan. Saya sempat
berfikir, mungkin lama-lama bisa ada rumah yang ambles ke bawah karena terlalu
banyak yang pake sumur bor ini.
Bagian ini saya ambil dan ringkas dari blog Bapak Suherdi (sumber).
Baik sumur galian atau sumur bor mengandung air tawar, dan daerah
di Pulau Jawa ini banyak mengandung batu sedimen dan endapan lumpur, galian
atau bor yang dilakukan dapat mengakibatkan terbentuknya rongga-rongga dalam
jumlah yang banyak, dampaknya membuat air laut terdorong masuk ke dalam, dan
air tawar mulai terksploitasi. Lama-lama air sumur bor akan menjadi payau
(campuran tawar dan asin), sadarkah suatu saat nanti akan terjadi krisis air
bersih?
Sumur bor tidak bisa dieksploitasi terus menerus, harus ada aturan
yang menunjang mengenai jarak sumur satu dengan yang lainnya. Tidak harus
setiap rumah di setiap perumahan memiliki sumur bor.
Kelak kau harus berfikir suatu hari cicit dari cicitmu akan
mengalami dampak atas apa yang kita perbuat.
Little comment for better future!
Saturday, September 14, 2013
Musik Indonesia Punya Saya
Posted by
sintamooo
,
at
Saturday, September 14, 2013
Rasa-rasanya tulisan saya belakangan ini agak serius, let me think
about something different, something I like the most, about music in Indonesia.
Wohooo!!
Bisa mendengar adalah anugerah, mendengar musik yang disukai juga
termasuk anugerah, senang bukan mendengar sesuatu yang menyenangkan telinga
lalu merasuk sampai ke hati?
Saya sudah agak lama mengangguri playist musik di kamar dengan
volume speaker super keras [efek pernah di protes], kerinduan ini akhirnya
berbalas, berbalas karena saat ini saya kembali mendendangkan berbagai macam
alunan musik, dan lagi-lagi tidak berapa lama kemudian teman datang
mendatangi kamar dan berkata “kenceng amat lo” kemudian pergi dari kamar,
kemudian masuk kamar saya lagi. Saya yakin karena musik ini bukan alirannya,
kalo sealiran juga kita pasti jedag jedug bareng. Teman kos yang lain pun
begitu “gw gak bisa nyanyi lagu lo, gak ngerti.” Ingin rasanya suatu hari nanti
saya punya suatu ruangan di rumah yang dindingnya saya tempeli karpet. Buat lesehan di dinding.
Dulu, saat saya dan mbak di kos sedang sama-sama patah hati [buka
memori], kita berdua untuk waktu yang lama dan beberapa kali melakukan adegan
yang biasa dilakukan orang-orang patah hati, tidur bersama di malam hari. Dan
kerokean bersama di siang atau sore hari, dengan remote tv sebagai mike. Dan
Sampai sekarang pun begitu. Jadi musik bagi saya adalah suatu wujud
pengekspresian diri atas kegundahgulaan.
Mari saya perkenalkan artis penghibur tak beroyalti ini. Saya mbajak di google atau minta temen.
Maaf kalo begitu.
Maliq & D’Essentials
Grup band ini punya gitaris yang gantengnya bukan main, namanya
Lale. Setiap konser, Lale selalu jadi hiburan untuk wanita-wanita macam saya
ini haha. Senyum dan pimples-nya bukan main, bikin geregetann! Maaf salah fokus.
Maliq, Music and Live Intrument Quality, menyatakan dirinya
memiliki aliran musik pop, soul, funk, rock, jazz, dan blues. Apapun itu, saya
suka sama semua lagu di semua albumnya. Band ini berdiri tahun 2002, dan udah
beberapa kali ganti personel, termasuk si Lale ini, dia gantiin Satrio Alexa
main gitar. Dan Ilman Ibrahim yang gantiin Ifa sebagai keyboardist. Semuanya
udah nikah, kecuali Lale. Salah fokus lagi.
Tujuh album sudah dikeluarkan, dan album terakhir bernama Setapak
Sriwedari. Salah satu lagu di albumnya bikin saya pengen cepet-cepet, ya cepet
itulah. Judulnya Inilah Kita. Sudahlah, gak fokus.
The Groove
Tujuh tahun berlalu, akhirnya di tahun 2013 ini The Groove
menunjukkan lagi batang hidungnya dengan new album Kusambut Hadirmu yang
release Mei 2013 lalu, kombinasi suara Rieke Ruslan yang tinggi dan Reza yang
rendah, saya susah mengutarakan imajinasi yang saya dengarkan. Lagu dan
musiknya enak banget. Gak semua lagu saya dengerin si, tapi yang paling saya
suka dan denger berulang-ulang itu: Dahulu, Sepi, Hanya Karena Cinta, Satu
Mimpi, Khayalan, Katakan Dengan Cinta.
The Groove sudah ada sejak jaman saya SD, seinget saya waktu itu,
kalo liat video klip nya di TV, Reza sang vokalis pria suka sekali bernyanyi
sambil menggoyangkan kaki semacam Elvis Presley.
Barry Likumahuwa Project (BLP)
Mati saja! Bukan saya meminta anda untuk mati, itu lagu pertama
yang saya dengar dari BLP, teman yang menyanyikan langsung untuk saya, sweet
kan? Saya newbie di sini, jadi gak tahu banyak tentang Barry. Tapi Barry ini
punya bapak yang namanya Benny, musisi jazz juga. The
apple doesn't fall far
from the tree, does it?
Barry ini punya komplotan yang akhirnya dia beri nama Barry
Likumahuwa Project, diusung tahun 2006. Musiknya menggabungkan jazz fusion,
funk/soul rhytm dengan jazz harmony dan melody, dan membaurkan dalam bentuk
rock and roll. Nah lho gak mudeng?! Modal copas sedikit dari sini.
SORE
Ini band indie asal Jakarta, pertama kali nonton pas lagi nonton
konser Maliq di Bandung tahun 2009, SORE jadi band pembuka, saya diam dan
pura-pura goyang aja waktu itu. Ternyata lagunya enak-enak, tapi berlalu gitu
aja abis konser. Beberapa tahun berikutnya saya baru punya full album mereka.
Salah satu yang recommended adalah Somos Libres. Dengarlah!
Mocca
SMP awal mocca sudah menggema di telinga, musiknya yummie
didenger. Dan untuk pertama kalinya saya tahu alat musik flute dari Arina sang
vokalis. Sewaktu saya masih berkelana di Bandung, perdana konser mocca yang
saya ikuti bersamaan dengan sore dan maliq membuat saya wow, lagi-lagi Arina
sang vokalis tidak hanya beratraksi dengan alat musik flute-nya, tapi juga
melakukan tap dance. Tap dance adalah salah satu jenis tarian yang mengandalkan
bunyi dari kaki yang dihentakkan ke lantai dengan menggunakan sepatu khusus.
Nanti malem ada konser Mocca di Semarang, apa daya, pundi-pundi
rupiah yang saya punya tidak mendukung.
White Shoes and The Couples Company (WSATCC)
Saya heran kenapa ada yang bikin nama sepanjang ini untuk sebuah
band. Sudahlah, selama bisa diucapkan dalam satu napas. Kalo pernah melihat
video klipnya, WSATCC ini memainkan peran dan lagunya sebagai sosok yang jadul,
era tahun 70-an. Jadul sekali. Tapi musiknya enak bukan main. Kalo tidak salah,
single pertamanya Senandung Maaf, lalu Windu Defrina.
Let us Jedag-Jedug!
Friday, September 6, 2013
Hidup Tanpa Teknologi
Posted by
sintamooo
,
at
Friday, September 06, 2013
![]() |
| Sumber Gambar |
Konon katanya 3 September lalu PLN
mengalami gangguan sistem transmisi induk untuk di sekitar wilayah Jawa Tengah
dan Jogjakarta, kondisi ini berakibat terputusnya aliran listrik a.k.a mati
lampu di hampir 70% area Jawa Tengah dan Jogjakarta. Saat itu saya sedang
berada di suatu desa di sebuah kota di tengah Pulau Jawa: Pekalongan.
Momen langka ini dimanfaatkan teman
mengajak saya untuk berekreasi, sekedar mencari angin malam menjelajahi
Pekalongan. Tapi apa daya, tiga sendok makan obat cair sudah saya teguk senja
itu, saya tetap meng-iya-kan ajakannya sambil semaput merindukan kasur empuk. But
I still enjoy the moment, no electricity. A friend, a motorcycle, and billions
of stars. Sambil melewati persawahan dan disambut angin malam terus-menerus. Kemudian mual.
Momen ini mengingatkan kembali akan
kediaman tempat saya berhijrah yang seringkali mengalami pemadaman bergilir, namun
hampir setiap waktu kematiannya saya selalu berusaha menikmatinya. Hanya ditemani
sebatang lilin atau emergency lamp berukuran mungil dan teman. Tanpa laptop.
Tanpa handphone. Sunyi. Saya benar-benar menikmatinya. Benar-benar menikmati.
Benar-benar.
Beranjak ke beberapa tahun silam,
sebelum teknologi menjadi [seperti satu-satunya] alat yang tidak bisa dilepas
dari genggaman kehidupan umat manusia, rasa-rasanya hidup lebih indah. Semua
orang menikmati setiap moment hidupnya. Bagaimana tidak bisa menikmati, saat
berkumpul bersama rekan atau handai taulan, mereka benar-benar bercengkrama,
memahami percakapan satu sama lain tanpa dihalangi gadget canggih itu. Saat
dimana tidak ada facebook, twitter, path, dan instagram. Saat tidak semua yang
kita lakukan ter-publish kedalamnya.
Rindu saat di Sekolah Dasar, saya
mengirimi surat hasil tulisan tangan saya ke Sherina Munaf. Rindu saat guru
meminta kami yang ada di kelas untuk saling berkirim surat walaupun setiap hari
bertemu dan ternyata surat tersebut sampai lebih dari sebulan kemudian. Rindu
saat teman baru tiba-tiba akan berganti teman baru lagi di sekolahnya yang
lain, lalu kami saling mengirimi surat walaupun berada di satu kota yang sama.
Rindu mendengar kisah lain di saat teman bercerita ia mendapat sahabat pena
karna menerbangkan balon dengan surat didalamnya. Rindu saat hari lebaran
menjelang, saya dan ayah sibuk mengirimi kartu lebaran. Rindu saat saya dan dia
terpisahkan pulau lalu kami bertukar kata-kata. Rindu melihat diary dan surat
Ayah tentang ibu. Rindu tulisan tangan itu, seperti apa wujudnya mereka saat
ini? Calibri-kah? Arial-kah? Times New Roman-kah?
Ko saya jadi seperti seseorang yang
anti teknologi begini ya? Saya justru termasuk salah satu dari kalian yang
menggilai setiap keberadaannya. Tapi saya rindu akan waktu dimana saya dan
semua orang masih bisa hidup tentram, damai, dan bahagia tanpa teknologi. Saat
semua orang lebih menghargai kebersamaan.
Saat aku
dan manusia saja. Aku rindu.
Tuesday, August 6, 2013
Matjet Djakarta
Posted by
sintamooo
,
at
Tuesday, August 06, 2013
![]() |
| Macet Jakarta Sumber Gambar |
Percakapan
di dalam mobil
Me: Nyalain AC, ma.
Mom: [AC nyala] Mama udah gak pernah pake AC, ta. Bensin mahal banget sekarang.
Me: [kaget kemudian bijak] Hah?! Yah kan
emang tujuan pemerintah naikin harga BBM supaya orang-orang jadi naik angkot.
Makanya naik angkot aja!
Mom: Naik angkot banyak copet, lagian masih
macet juga.
Lantas
siapa yang salah? Ibu saya yang salah? Ibu selalu benar, kawan.
Jakarta, ibu kota Negara
Indonesia, dengan 10.187.595 juta jiwa dalam
luas sekitar 661.52 km2, yang berarti melebihi
batas ideal suatu kota [batas ideal: 6,5 juta penduduk] dan merupakan kota
dengan jumlah mall
terbanyak di dunia, yaitu mencapai 170 mall adalah kota
dengankemacetan tertinggi. Sewaktu saya magang di daerah Sunter, untuk
berangkat dari Bekasi dengan timing yang tepat, saya akan sampai dalam waktu 45
menit, jika lewat sedikit dari timing akan lebih dari sejam. Sedangkan kepulangannya
memakan waktu hingga empat jam, paling cepat dua jam. Coba saja kalikan waktu
terjebak macet dengan jumlah hari kerja per tahun, berapa banyak waktu yang
saya buang?
Penyebab
Kemacetan
·
Jakarta adalah pusat dari segala pusat. Pusat
pemerintahan, perkantoran, perbelanjaan, hiburan semuanya menjadi satu di
Jakarta. Terpusatnya segala aspek di satu titik menjadi kesan bahwa Jakarta tidak
punya planning yang terarah sejak awal. Kalaupun mau merubah, akan terasa
sulit.
·
Urbanisasi besar-besaran. Keyakinan nasib
akan berubah setelah datang ke ibu kota masih cukup besar, karena itu
pemerintah memberikan wacana “Jangan datang ke Jakarta kalo belum ada pekerjaan”
·
Jumlah penduduk yang tidak wajar diiringi kurangnya
kesdaran masyarakat. Ibu saya misalnya, sudah tahu harga BBM naik, beliau
mengeluh tapi tetap saja naik kendaraan pribadi.
·
Pembangunan yang dilakukan terus-menerus.
Developer berlomba-lomba membangun perumahan, mall, gedung dan sebagainya,
sasaran empuk bagi pendatang yang akan menetap untuk membeli rumah. Dan lagi,
pembangunan jalan yang terus dilakukan, namun tidak seiring dengan volume
pertambahan kendaraan bermotor. Jalan semakin melebar, kendaraan juga semakin
banyak.
·
Banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan
di pinggir jalan, sehingga membuat terhambatnya arus laju kendaraan.
·
Banjir besar setiap tahun menjadi salah satu
penyumbang kemacetan di Jakarta, jalanan menjadi tersendat, bahkan membuat
kendaraan menjadi mogok.
·
Rasa tidak percaya penduduk bahwa solusi
pemerintah dapat membantu menyamankan diri selama perjalanan. Lagi-lagi ibu
saya contohnya, ketakutan akan ketidakamanan transportasi publik menjadi faktor
utama, tidak menjamin setelah naik angkot, beliau akan cepat sampat dan dalam
keadaan aman.
·
Jumlah kendaraan yang terus meningkat dari
detik ke detik, volume
pertambahan kendaraan per tahunnya adalah 11.26%, sedangkan pertambahan ruas
jalan adalah 0.01%. Semua perusahaan kendaraan bermotor punya target
tinggi terhadap penjualan, dan semuanya juga memberikan inovasi terbaru dalam
kemajuan kendaraan tersebut. Satu sisi baik, sisi lainnya justru merugikan.
Jika seksama, kita dapat
melihat bahwa kemacetan seperti siklus. Mulai dari pemusatan segala aspek, lalu
penduduk bertambah, pembangunan dilakukan terus menerus, pabrik terus
memproduksi kendaraan namun tidak diiikuti pertambahan ruas jalan, kesadaran
masyarakat unuk naik public transportation kurang, lalu macet. Tapi terus saja
berulang.
Pemerintah sudah berupaya
sekuat tenaga agar prediksi macet total di tahun 2015 tidak akan terjadi. Sudah
banyak yang dilakukan, banyak sekali. Tapi saya rasa, akar permasalahannya ada
pada satu hal: Pabrik Kendaraan Bermotor.
Ada berapa banyak pabrik
kendaraan bermotor di Jakarta? Berapa banyak kendaraan yang mereka produksi per
bulannya. Sebenarnya, inilah point utama yang menjadi tahapan awal terjadinya
kemacetan di Jakarta. Suatu hari saya pernah mendengar, salah satu perusaan
pembuat kendaraan bermotor berencana menjual mobil murah, seperti
mengedukasi masyarakat untuk mempunyai kendaraan. Sedih sekali. Coba lihat lagi, mayoritas merek-merek
kendaraan didominasi oleh Jepang, tapi coba lihat, masyarakat di Jepang lebih suka
mengendarai sepeda atau naik public transportation. Sewaktu ada orang Jepang di Indonesia, saya tanya bagaimana perasaan mereka disini, yang pertama mereka bilang adalah banyak sekali motor, ia bilang di Jepang tidak ada motor. How come? Jepang melihat peluang, melihat Indonesia
adalah negara berkembang dengan jumlah pengangguran yang banyak dan masyarakat yang
konsumtif. Voila. Jadilah, bertebaran pabrik kendaraan bermotor di Indonesia.
Mereka hidup sehat tanpa mecet dan polusi, kita sebaliknya.
Jadi, apakah menutup pabrik
kendaraan bermotor adalah hal yang perlu dilakukan? Bagaimana nasib
karyawannya? Kontrol pertumbuhan volume kendaraan. Lihat Indonesia. Lihat
kekayaannya. Manfaatkan! Jangan biarkan orang lain yang memanfaatkan.
Kadang
hanya berbicara itu enak.
Maaf
baru sebatas opini :)
Thursday, July 25, 2013
Basuki – A Blind Person [OUR CONSCIENCE]
Posted by
sintamooo
,
at
Thursday, July 25, 2013
Bersama
dengan teman sekolah [senior] yang jauh-jauh datang dari Bekasi, beberapa waktu
yang lalu kami melakukan perjalanan panjang ke daerah Mijen, Semarang. Jauhnya
perjalanan terpuaskan karena hangatnya Pak Basuki menyambut kehadiran kami
berdua. Saya adalah wartawan gadungan, tapi teman saya ini adalah wartawan
sesungguhnya, jadi bahagia sekali saya waktu itu menemani seorang wartawan yang
punya jiwa kemanusiaan tinggi untuk datang meliput cerita Pak Basuki mengenai
aktifitasnya di Sahabat Mata. Sedangkan saya hanya duduk manis melihat :)
Cerita sebelumnya pernah saya post disini. Teman saya ini bernama Mutia Zahrotul | @moeteee dipanggilnya Moete [baca: Mute], ia mengajak saya untuk melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi dengan teman-teman disabilitas, pengalaman pertama saya waktu itu. Senang sekali. Tidak hanya seorang wartawati, tapi Mute juga adalah seorang anak yang baik hati, ia banyak mengabdikan dirinya untuk teman-teman disabilitas.
Cerita sebelumnya pernah saya post disini. Teman saya ini bernama Mutia Zahrotul | @moeteee dipanggilnya Moete [baca: Mute], ia mengajak saya untuk melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi dengan teman-teman disabilitas, pengalaman pertama saya waktu itu. Senang sekali. Tidak hanya seorang wartawati, tapi Mute juga adalah seorang anak yang baik hati, ia banyak mengabdikan dirinya untuk teman-teman disabilitas.
Sampai
beberapa hari yang lalu saya dikabarkan shooting yang dilakukan tempo hari
membuahkan hasil, sebuah video menyentuh berjudul “Basuki – A Blind Person [OUR
CONSCIENCE]”
Published on Jul 19, 2013Semarang, 15 Juli 2013
Tak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk menjadi seorang tunanetra. Malam hari tanggal 31 Juli 2002 adalah awal saya memasuki dunia ketunanetraan. Dunia serasa kiamat.
Hampir satu tahun setealh itu saya mengalami depresi mental yang belum pernah saya bayangkan. 1 orang istri dan 4 orang anak ... makan apa mereka ? bagaimana kelangsungan hidup mereka ? Bagaimana dengan saya sendiri ? Dan segala permasalahan yang serasa semakin membenamkan saya di pojok kamar dan menghancurkan citra kemanusiaan saya.
Alhamdulillah, 1 orang istri dan 4 orang anak ternyata menjadi modal untuk bangkit. Sikap dan perlakuan mereka membuat saya lebih cepat bangkit dari perkiraan sebelumnya. Tak sampai satu tahun saya mulai menemukan rasa percaya diri lagi. Satu tekad yang saya dapatkan dari perhatian mereka adalah : Istri saya harus tidak malu bersuamikan saya, dia harus bangga bersuamikan saya. Anak-anak harus tidak malu berayahkan saya, mereka harus bangga berAyahkan saya. Demikian yang lainnya, orang tua, saudara, sahabat, mereka harus tidak malu atas keberadaan saya. Mereka harus bangga dengan keberadaan saya.
Sejak pertengahan 2003 saya mulai mencoba untuk menceburkan diri ke dalam komunitas-komunitas yang saya anggap bisa menjadi jembatan untuk menopang kehidupan, paling tidak semakin membangkitkan rasa percaya diri dan membuka ruang baru bagi aktivitas saya yang tunanetra.
Mulai dari MLM sampai seminar-seminar motivasi saya ikuti. Komunitas-komunitas kewirausahaan saya masuki, Retired Rich Club yang didirikan Yance Can sampai Semarang entrepreneur Comunity yang dipelopori Prie GS.
Baru pada pertengahan 2006 saya mulai bertemu dengan komunitas tunanetra. Awal 2007 saya diamanai untuk menjadi wakil sekretaris DPD Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) Jawa Tengah, bulan Juli 2007 menjadi sekretaris. Dalam menjalankan amanah inilah saya mulai mengetahui kondisi sesungguhnya sahabat-sahabat yang tunanetra. Hasilnya, memprihatinkan. Sikap mental yang salah akhirnya mendorong mereka dalam strata social dan ekonomi kelas bawah.
Alhamdulillah, di tahun 2007 itu pula istri saya diangkat menjadi PNS sebagai guru matematika di SMA Negeri 8 Semarang. Dari kesehariannya mengajar, ada satu siswi yang bermasalah dengan prestasi belajarnya. Setelah ditulusuri ternyata permasalahannya adalah mata minus yang ia derita. Kacamata minus tak mampu dibeli orang tuanya yang bekerja sebagai buruh cuci tetangga.
Ada satu rasa senasib. Saya dulu juga tidak bisa memekai kacamata karena orang tua tak mampu beli. Baru kelas 5 SD saya dibelikan kacamata -5,5 yang tak lama kemudian pecah. Masuk SMP dibelikan lagi dan sudah menigkat menjadi -7.
Banyak pihak yang telah terjun dalam upayanya memberikan solusi atas permasalahan ini. Untuk mengurangi resiko kebutaan, baik lembaga pemerintah maupun swasta banyak yang sudah turun tangan. Pemerintah lewat Puskesmas, dari swasta ada Iropin, perdami dan lembaga-lembaga lainnya. Hanya saja, mereka cenderung seragam dalam upaya mengurangi resiko kebutaan ini. Mereka lebih banyak bergerak dari sisi medis dan alat Bantu penglihatan.
Lebih parah lagi, setelah betul-betul menjadi tunanetra dokter mata tak mampu memberikan solusi, bahkan hanya sekedar informasi kemana si tunanetra ini bisa mendapatkan pendampingan untuk pemulihan psikologinya pun tidak. Sementara dalam memberikan solusi bagi permasalahan tunanetra juga sudah banyak instansi yang berkecimpung di dalamnya. Pemerintah lewat dinas social. Sedangkan swasta ada Pertuni, ITMi, mitranetra serta SLB yang dikelola oleh yayasan-yayasan swasta.
Yang saya ketahui mereka lebih banyak bergerak di ranah pemenuhan hak-hak tunanetra dan bagaimana cara orang lain (selain tunanetra) bisa memahami tunanetra. Sementara bagaimana tunanetra bisa memenuhi kwajibannya terhadap lingkungan sekitar masih jarang disentuh.
Salam,
BASUKI - Tunanetra
Email. sahabatmata@gmail.com & bas2net@gmail.com
www.jalancahaya.org
www.sahabatmata.or.id
Subscribe to:
Posts (Atom)









