Tuesday, July 16, 2013

Agama Yang Mana?

,
Tersesat? Bukan tersesat sepertinya, saya lebih menyebutnya sebagai sisi lain perjalanan spiritual. Disebut sebagai sisi lain karena yang saya alami saat itu bukanlah keyakinan yang seharusnya saya yakini sebagai suatu pedoman hidup.
Sumber Gambar

Tidak sampai satu tahun yang lalu, saya menemukan keberagaman manusia dengan berbagai ajarannya. Teman yang belum saya kenal lama adalah seorang agnostik kalau tidak salah, ia menyakini bahwa semua ajaran agama adalah benar adanya, semuanya mengajarkan kebaikan. Pertama kali, saya melihat ia berdoa layaknya muslim, dan di akhir ia berdoa layaknya kristiani. Agak aneh, tapi saya tertarik, dan akhirnya bertanya ini itu. Teman saya ini bergabung dengan komunitas sesuai keyakinannya, mempelajari Al Quran, Injil, Weda, Tripitaka, dsb. Saya sempat terbawa dalam pemikiran ini, untungnya tidak lama. Beruntungnya lagi, saya masih menjalankan sholat lima waktu. Saat itu saya hanya sambil berfikir; tidak ada agama yang mengajarkan keburukan, semuanya punya tujuan baik, saya ini membawa agama keturunan.

Sampai suatu ketika saya menemukan buku yang ditulis seorang biksu jenaka, Ajahn Brahm, buku unik judulnya Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Ada empat series, saya punya semuanya! Mungkin kalau ada yang pernah membaca buku Chicken Soup, ya seperti itulah bentuknya, kumpulan-kumpulan cerita kehidupan pengembangan diri, tapi uniknya buku ini dikemas secara apik baik dari segi cover, gaya bahasa yang lucu, dan ah semuanya bagus. Si Cacing ini merupakan karakter yang diibaratkan sebagai seorang manusia, sedangkan kotoran kesayangannya adalah dunia yang fana ini. Cacing asyik berkubang dalam dunia gemerlap.
Edisi Buku 3 dan 4 "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya"
Dokumentasi Pribadi

Ajahn Brahm adalah biksu fenomenal haha, berikut biografi singkatAjahn Brahm yang saya resume dari buku Si Cacing. Ajahn Brahmavamso Mahathera, atau dikenal dengan Ajahn Brahm dilahirkan dengan nama Peter Betts di London, Inggris, 7 Agustus 1951. Ia berasal dari latar belakang keluarga buruh dengan pendapatan pas-pasan. Sejak bersekolah, Ajahn Brahm kecil sudah dikenal pintar dan selalu mendapat beasiswa, hingga di sekolah menengah atas [kalo tidak salah], uang beasiswanya ia belikan buku-buku agama, berbagai jenis agama, karena Ajahn Brahm yakin ia memerlukan agama sebagai landasan hidupnya. Setelah banyak referensi dibaca, akhirnya Ajahn Brahm memutuskan untuk menjadi Buddhist. Setelah lulus SMA, lagi-lagi Ajahan Brahm mendapatkan beasiswa untuk belajar Fisika Teori di Cambridge University. Setelah lulus, ia mengajar di SMU selama satu tahun sebelum pergi ke Thailand untuk menjadi biksu dan berlatih di bawah bimbingan Ajahn Chah Bodhinyana Mahathera selama sembilan tahun. Semenjak menempuh pendidikan sebagai biksu yang penuh tantangan dan pengalaman, akhirnya Ajahn Brahm pergi ke Australia dan membangun wihara bersama beberapa temannya, menumpukkan bata dengan tangan mereka sendiri.

108 kisah di tiap-tiap bukunya membuat saya terlena [apa bahasa yang enak ya?], intinya kebahagiaan dalam hidup, hanya membaca kisahnya saya jadi ikut bahagia. Saya pun sempat berfikir, Buddha adalah agama yang indah dan menenangkan. Tapi di buku terakhir “Horeee! Guru Si Cacing Datang” yang berisikan catatan perjalanan Ajahn Brahm keliling Indonesia, menuju halaman terakhir ada pernyataan yang menyatakan bahwa Buddhist tidak percaya dengan Tuhan Sang Pencipta, Buddhist hanya percaya pada Dewa, pengecualian pada Dewa Yang Menciptakan. Saya kecewa saat itu, tapi saya tetap ingin menerapkan kebiasaan yang dilakukan Ajahn Brahm untuk melepaskan beban; meditasi. Saya mencari tahu dan membeli buku meditasi yang ditulis biksu ini juga, tapi entah mengapa gairah membaca di halaman-halaman awal pun tidak ada, apa karena penerbit dan penerjemahnya beda? Mungkin ya. Gaya bahasanya jadi berubah, padahal sebelumnya sosok Ajahn Brahm terlihat humoris dibuku sebelumnya. Sekedar tahu saja, kalau penerbit buku Si Cacing ini adalah Awareness Publication, pada logonya jelas sekali menggambarkan mata satu di dalam segitiga, dan penerbit ini pernah menerbitkan buku dengan judul Illuminata yang berarti pencerahan. Dan karena logo inilah saya tergerak untuk membaca dan membeli buku Ajahn Brahm. Penasaran. Ada yang salah dengan mata satu atau ilumintati?

Sewaktu sedang giat-giatnya membeli buku-buku ajaran Buddha ini, saya tersentak dengan pertanyaan dan pernyataan kakak saya “Lo udah baca buku biografi Nabi Muhammad? Bagus itu. Baca buku Islam dulu, dalemin, baru lo baca buku-buku kaya gitu!” Dan tetiba saya juga teringat pernah ada seseorang yang memberikan buku 100 Pesan Nabi Untuk Wanita, dan buku yang ibu saya pernah berikan mengenai Islam. Bagaimana bisa? Buku wajibnya malah gak kebaca. Kenapa saya gak baca itu semua dulu? Padahal membaca Al Quran dan terjemahannya juga menentramkan. Masalah meditasi? Saya rasa sholat bisa dijadikan meditasi, karena unsur melepas dan berserah juga ada didalamnya. Apa yang salah pada diri saya kemaren? Masalah semua agama benar? Itu tergantung pribadinya. Yang saya yakini dengan sangat saat ini adalah agama saya ini yang benar, dan yang harus saya lakukan adalah menjaga perasaan ini sampai akhir hayat. Beruntungnya lagi saya tidak perlu mencari, karena saya diturunkan dari darah Islam dari kedua orangtua, Alhamdulillah.

Semua agama mengajarkan yang baik, tinggal bagaimana manusia memilih dan saling respect.
Bagaimana dengan Atheist? Tulisan ini kontroversial?! 

2 comments to “Agama Yang Mana?”

  • July 17, 2013 at 9:47 AM

    cukuplah dengan yg kita punya, itu kata Rasul.. :))

    Saya juga ada tuh Sirah Nabawiyyah. Buku kisah Nabi Muhammad..

    delete
  • July 25, 2013 at 9:51 AM
    sintamooo says:

    cukup dengan yang kita punya :)

    delete