Tuesday, May 28, 2013

Soe Hok Gie: Sebuah Renungan

,

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya.

Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.
Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.
Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibu dia cuma tersenyum dan berkata “Ah, mama tidak mengerti”.
Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si …, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya dalam tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.
Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.
Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.
Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman Lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu”. Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.
Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab “Tidak. Mengapa?” Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, “untuk siapa peti mati ini?” Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?” Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab “Dia orang berani. Sayang dia meninggal”.
Jenazah dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus”. Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?
Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang?
Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam hatinya.
Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik “Gie, kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.
Arief Budiman (Soe Hok Djin), kakak kandung Soe Hok Gie
Tulisan pengantar pada buku Catatan Seorang Demonstran.

sumber 
Read more →

Tuesday, May 21, 2013

Tanya Kapan?

,





Kapan menanyakan waktu. Kapan yang entah apa itu bahkan terkadang kita belum bisa menyebutkan tepatnya kapan. Kapan bisa menjadi artikulasi kata yang menarik bila penempatannya benar. Tentu kapan yang sudah menunjukkan kepastian kapan terlaksana. Kapan juga banyak membuat orang-orang mendadak sensitive. Kapan yang tidak tepat dalam penyampaian sebuah kalimat. Hati-hati berkata kapan pada orang-orang tertentu, seperti saya ini.


Kapan-kapan lainnya akan terus terlontar, tinggal bagaimana menyikapinya. Saya sudah mulai terbiasa mendengar berbagai macam kata kapan. Dalam durasi waktu 24 jam ini, melalui selftalk, saya bertanya kapan saya akan bangun hingga berujung pertanyaan kapan saya nikah. Tidak tidak! Saya tidak menekankan untuk pertanyaan terakhir tadi, antara pertanyaan kapan bangun dan kapan nikah itulah saya berada. Kalau tidak ingat untuk apa saya ada di posisi ini sejauh ini pula, sudah habis saya dimakan kapan [waktu]. Saya tidak bisa menyebutkan secara spesifik kapan itu terjadi, tapi target harus tetap di raih. Apa jadinya manusia hidup gak punya target. Cuma jadi seonggok daging berjalan yang siap disembelih. Dan pertanyaan kapan itulah yang bisa jadi motivasi target cepat tercapai, supaya kata kapan tersebut berlanjut menjadi kapan-kapan lainnya.


Apalagi melihat orang-orang di sekitar sudah mencapai titik kapannya, tinggal berganti kapan yang lain. Saya ingin orang-orang mengganti kapan, atau paling tidak membuat sedikit variasi dengan kata kapan tersebut. Hati-hati berkata kapan, kalau bisa jangan dengan pertanyaan kapan, buatlah pernyataan dari kapan, yang menyenangkan.

Kapan lulus?


Read more →

Saturday, May 18, 2013

Menulis Memanjangkan Umur

,

Kunjungan teman kampus ke kos untuk sekedar bercerita mengenai blog yang saya dan dia buat – dentista – yang ternyata template blognya sama, membuka mata hati tangan-tangan saya untuk bergerak, menulis lagi.


Berawal dari pembicaraan kita mengenai kisah kecelakaan bis mahasiswa FK Undip tempo lalu, yang ternyata salah satu dari kedua korban memiliki hobi nge-blog, dan sebelum meninggal ia menulis tentang kematian yang judulnya Dosen Tak Bernyawa. Terbayang apa yang saya lakukan sebelum ini adalah membaca tulisan seorang anak yang telah meninggal. Saya membaca selah-olah si penulis masih hidup. Get what I mean?


Semoga kutipan dari Pramoedya AnantaToer dapat membantu menjelaskan.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. (Rumah Kaca, h. 352)”


Saya rasa hampir semua orang hebat menulis, banyak orang terkenal lewat jurnal ilmiah, buku, blog, bahkan twitter. Medianya sudah menjamur, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Rhenald Kasali misalnya, ia ekonom, penulis buku dan jurnal mengenai ekonomi, pengisi website rumah perubahan, membuat blog di facebook, dan berkultwit ria di twitter. Paket lengkap. Atau Soe Hok Gie, mahasiswa yang melakukan pemberontakan melalui tulisannya di media cetak saat itu,   buku mengenai catatan seorang demonstran dibukukan setelah lama ia meninggal, artinya keberadaan Gie masih saja diakui sepeninggalannya. Terakhir, sebut saja pujangga Yunani Socrates, Plato, dan Aristoteles tiga orang filsuf guru-murid turun temurun, sudah berapa ratus tahun yang lalu mereka meninggal? Karyanya masih saja melegenda dan dibaca banyak orang.

Dan menulis bisa jadi sebuah panggilan hati atau hobi, tapi kalo saya? Saya lebih ke arah membiasakan diri untuk menulis karena [jujur] saya tidak ingin mati tenggelam oleh jaman. Lagipula menulis juga salah satu wujud untuk melatih otak, otak kiri akan mengasah kemampuan analisis dan rasional atas apa yang kita tulis, sedangkan otak kanan memberikan imajinasinya. Dengan menulis, semua daya otak terpakai. More info.

Saya pernah men-share bagaimana kondisi bangsa Indonesia dalam hal penerbitan buku disini. Sesungguhnya seberapa banyak buku yang diterbitkan suatu bangsa mencerminkan kualitas suatu bangsa. Kita masih kalah dari Malaysia dan Vietnam, miris kan? Saya pun belum menulis buku, belum terpikirkan untuk menulis buku malahan, menulis blog seperti ini saja sudah membuat otak saya bekerja jauh dari biasanya. Entah ada yang baca atau gak, saya selalu puas setiap setiap menyelesaikan satu postingan. Gak ada salahnya kan kalo kita memulai menulis dari yang kecil-kecil seperti ini.

Salam go-blog!
Read more →

Tuesday, May 14, 2013

Karena ucapan adalah doa

,

Akhirnya saya menyelesaikan asistensi perdana skripsi dengan indah, not bad. Sambil berlalu, saya teringat akan kisah di salah satu film India, ingat saya bukan pecinta film India yang suka nari-nari di tiang, film ini bernama Taare Zameen Par, kisah klasik dunia pendidikan yang keras. Saya tidak akan membicarakan masalah pendidikan formalnya, tapi pendidikan batin.

Pikiran saya terbawa pada suatu dialog seorang guru yang sedang menasehati wali murid seorang anak penderita disleksia, mengenai Pulau Solomon yang berada di timur Papua Nugini. Konon katanya untuk mendapatkan lahan bercocok tanam, penduduk Pulau Solomon tidak perlu menebang atau membakar pohon yang ada disana, mereka cukup membuat perkataan kasar dan jorok ke pohon-pohon yang ada. Alhasil, pohon menjadi kering, mati lalu tumbang. Yah, semudah itu.

Pohon di Pulau Solomon bisa saja dianalogikan sebagai seorang anak yang mendapat perlakuan kasar dari orang-orang sekitar, mereka bisa saja tumbang sewaktu-waktu karena seringkali terucap kata-kata bodoh, ceroboh, malas, dll. Itu semua bisa jadi pembunuhan karakter! Seperti apapun kondisi seorang anak, jangan sampai kata-kata pembunuh itu keluar, bersikaplah baik dengan kata-kata yang baik pula, karena anak tumbuh berdasarkan lingkungannya.

Sama halnya dengan cerita air, Masaru Emoto meneliti dan menuliskan dalam bukunya Miracle of Water dampak kata-kata yang diimplikasikan ke air beserta foto-foto perubahan struktur molekulnya berdasarkan kata-kata yang diucapkan.  Jika kita mengcapkan kata cantik, pinter, baik, cinta, hebat, dll air akan berkontraksi membentuk molekul kristal nan indah. Sebaliknya, jika yang terucap adalah kata-kata buruk, air akan berubah tidak berbentuk.

Struktur Molekul Air Berubah Saat Diucapkan Kata-Kata
sumber

Hubungan antara ucapan yang baik dan pernyataan bahwa 80% tubuh manusia terdiri dari air dapat diterjemahkan bahwa alangkah indahnya jika kita bersugesti dengan kata-kata positif pada diri kita. Dan secara tidak langsung, ini semua mengajarkan pada kita untuk berinteraksi secara baik-baik terhadap orang lain.

Karena ucapan adalah doa.
Salam super.
Read more →

Sunday, May 12, 2013

From the Darkness to the Lightness

,




Saya belajar bersyukur dari kaum disibilitas, terutama mereka yang punya semangat melampaui orang-orang dengan kesempurnaan fisik. Sabtu (11/5) kemaren saya bersama seorang teman berkunjung ke Sahabat Mata. Sebuah komunitas yang dimotori seorang tunanetra, yang sudah sejak lama menderita kebutaan, Pak Basuki namanya. Pak Basuki sendiri mengalami kebutaan di tahun 2004 karena ablasio retina yaitu lepasnya saraf retina dan memang sejak dulu minus di mata Pak Basuki sudah besar, hingga minus 11. Di masa-masa kegelapannya itu, beliau merasa sangat terpuruk dan hanya suara-suara yang menemani, terutama radio. Berawal dari histori inilah, akhirnya Pak Basuki mendirikan sebuah stasiun radio SAMA FM dengan frekuensi yang hanya dapat dijangkau se-kecamatan Mijen [107.4 MHz], announcer-nya juga seorang tunanetra. Namun, selain ketenarannya akan radio, apa saja yang dilakukan Pak Basuki sehingga ia terlihat semakin waw, bahkan pernah masuk di Kick Andy?

Beberapa yang beliau ingat adalah membuat Al Quran braille dan melakukan pelatihan ke teman-teman tuna netra lainnya, melakukan pelatihan audio-editting, melakukan pengecekan mata ke anak-anak sekolah dasar, membuat drama khusus tuna netra dalam rangka penggalangan dana kacamata gratis, dan menjadi event organizer di seminar nasionar “meretas keterbatasan” sekaligus lomba debat tuna netra. Ketika saya bercerita saya pernah kuliah di pertanian, beliau sanga excited dan menceritakan bahwa ia ingin sekali menggagas pertanian untuk tunanetra [agropreneur], pertanian berbasis hidroponik. Tidak hanya mengadakan pelatihan pertanian saja, tapi juga ada pasar yang siap menerima agar pelatihannya tidak sia-sia. Semoga saja bisa terlaksana dalam waktu dekat.

Disini Pak Basuki mencoba membaur dan membangun kesetaraan dengan masyarakat. Kalimat beliau yang masih terngiang di telinga saya adalah “Tuna netra diterima di masyarakat mungkin karena ketunanetraannya. Tapi itu tidak akan bertahan, karena lama-lama masyarakat akan bosan. Harus menjadi manfaat untuk bisa diterima.”

Adakah tergerak melihat ini semua sebagai peluang untuk beramal sholeh?! :)




Read more →

Wednesday, April 24, 2013

Zeronine Berbagi ”Kesenangan Melampaui Batas”

,

Gambar oleh Annisa Prafitri
Semarang – 19 April 2013. Dalam rangka syukuran ulang tahun Angkatan yang Ke-3 ini, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2009 atau sering disebut Zeronine, menyempatkan diri untuk terjun langsung melihat dan membantu adik-adik Panti Asuhan Yatama Al Firdausi yang beralamat di Jalan Tanjungsari RT I RW II Sumurboto, Banyumanik. Panti asuhan yang berdiri sejak tahun 1998 ini, awalnya hanya memiliki 5 anak asuhan, namun hingga April 2013 telah memiliki 82 anak asuhan putra dan putri,  mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain karena ingin beramal, teman-teman Zeronine yang notabene akan segera meninggalkan bangku kuliah, juga ingin sekali berbagi dan berdoa bersama dengan adik-adik panti asuhan.

Sulitnya menyatukan angkatan yang sudah tenggelam dalam urusan masing-masing,  rangkaian acara ini merupakan pemersatu yang tepat bagi Zeronine, semua bahu-membahu membantu mencari donasi. Alhasil, donasi yang diberikan melampaui batas perkiraan. Tidak hanya Zeronine yang turut berkontribusi dalam kunjungan sosial ini, keluarga dan teman-teman dari angkatan 2008 dan 2010 ikut memberikan donasi. Bahkan mahasiswa non-Teknik Industri pun juga ikut berpartisipasi.  Berbagai keperluan panti seperti uang tunai, alat tulis, pakaian layak pakai, dan sembako disumbangkan. Diharapkan kedatangan Zeronine dapat meringankan beban adik-adik Panti Asuhan Yatama Al Firdausi. “Alhamdulillah, semua donasi dapat disumbangkan, senangnya bisa melebihi target, bahkan ada dari pihak-pihak luar Undip yang juga ikut ngasih donasi. Semoga ini bisa jadi tradisi yang berlanjut” Tutur Muhdam Azhar selaku penanggung jawab kunjungan sosial.

Kedatangan Zeronine disambut dengan riang oleh adik-adik panti asuhan, terutama saat diadakan sesi permainan. Teman-teman panitia memang telah menyiapkan berbagai permainan untuk menghibur adik-adik, mereka terlihat antusias dan bersemangat. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan bersama dengan pihak panti dan pembagian kado ke seluruh anak. Hari itu, di akhir acara dipanjatkan doa khusyuk untuk Zeronine demi kelancarannya dalam menimba ilmu dan untuk adik-adikpanti agar diberikan kesuksesan meski dalam keterbatasan. (Reporter: Sinta, Editor: Aisyah)

Zeronine
Read more →

Thursday, April 18, 2013

Mens Sana Incorpore Sano [Leader Activation Project]

,

Leader activation adalah sebuah rangkaian event bertemakan “Good Leader Characteristics” yang mengembangkan kemampuan kepemimpinan para peserta berdasarkan kriteria pemimpin yang baik. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama dengan Astra International, Asuransi Astra Buana, dan AIESEC LC Undip.  Salah satu objektif dari Leader Activation adalah memberikan motivasi dan inspirasi, memberikan sarana pengaktualisasian softskill dengan kriteria “good leader” melalui social project competition.  Kami, Repro Team mengangkat tema Mens Sana Incorpore Sano, yang merupakan sebuah kutipan populer dalam dunia kesehatan dan olahraga. Berasal dari sebuah mahakarya seorang pujangga romawi yang berarti di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Disini kami berusaha menanamkan jiwa yang sehat dalam setiap anak-anak demi menunjang kegiatan mereka melalui kegiatan yang bersifat membangun dan menghibur.

Sasaran edukasi dari project kami adalah anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah yang berjumlah 43 anak, terdiri dari 7 orang tingkat SD, 21 orang tingkat SMP, dan 15 orang tingkat SMA.

Project ini diselenggarakan selama dua hari, pada hari Sabtu dan Minggu, 13 dan 14 April 2013. Bertempat di Panti Asuhan Muhammadiyah Jl. Giri Mukti Barat Ii / 19 Telogosari Kulon, Semarang.

Berbagai kegiatan telah disusun oleh panti tersebut, baik pendidikan, kerohanian, dan olahraga. Namun, pemahaman tentang pentingnya kesehatan belum diberikan di panti ini terutama mengenai bahaya rokok, narkoba, kesehatan reproduksi, dan HIV/AIDS.

Kegiatan pertama di hari sabtu malam adalah nonton bareng film Children of Heaven yang kaya akan makna, di akhir acara brainstorming pesan tersirat yang ada di film. Di hari kedua, kami mengedukasi anak-anak panti mengenai rokok, narkoba, kesehatan reproduksi, dan HIV/AIDS yang dibantu oleh Diponegoro Care Center (DCC), dengan sistem diskusi atau learning circle, anak-anak dapat berkontribusi secara aktif dan tidak merasa digurui. Sebagai wujud nyata dari Mens Sana Incorpore Sano, kami membuat pertandingan futsal, disini kami berusaha menanamkan jiwa sportifitas dalam diri setiap anak. Dia khir acara, pembagian susu yang dibantu teman-teman dari Divisi Energy Young on Top Semarang dan House of Moo.

Read more →

Dunia Sekitar - Maliq & D'Essentials

,

kali pertama lagu ini sounding di telinga saya, saya ulang-ulang terus. maknanya deep banget. cess!!


Pernahkah kau berpikir

Hidupmu tidak adil
Karna engkau merasa
Kecewa karna hal yang kecil kau anggap besar
Seakan hidup ini berakhir



Tidakkah kau merasa
Harusnya kau berpikir
Masalahmu yang kecil
Tidak sebanding dengan apa yang dirasakan
Banyak manusia diluar sana



Hai cobalah kau melihat
Dunia disekitar
Dengan mata hatimu
So give your love
Your love
Your love
Your love
C'mon people



Hingga engkau mengerti
Tidak banyak manusia
Seberuntung dirimu
Yang berharap uluran tangan tak kunjung datang
Namun senyumnya tak pernah hilang



Jadi mulai sekarang
Cobalah tetap senang
Saat cobaan datang
Karna itu akan selalu datang dan hilang
Seperti hari siang dan malam



Hai cobalah kau melihat
Dunia disekitar
Dengan mata hatimu



Gimme your love
Your love
Your love
Your love
C'mon people



Langkah manusia menjadi nyata
Saat bertindak bukan berkata
Belajar makna dari senyuman mereka



So c'mon people
Let's do it now
Let's do it now



Langkah manusia menjadi nyata
Saat bertindak bukan berkata
Belajar makna dari senyuman mereka



Gimme your love
Your love
Your love
Your love
C'mon people
Your love
Your love
Your love
Your love
Your love
C'mon people
C'mon c'mon c'mon c'mon c'mon
C'mon c'mon c'mon c'mon
C'mon people
Let's do it now



C'mon c'mon c'mon c'mon c'mon
C'mon c'mon c'mon c'mon
Do it now
Let's do it now
So c'mon people
Let's do it now
C'mon people
Let's do it now
C'mon c'mon c'mon c'mon c'mon
Read more →